Showing posts with label What I see. Show all posts
Showing posts with label What I see. Show all posts

Sebuah Nama

Sebuah Nama
Beberapa hari ini saya silau dengan sebuah nama. Sebuah nama yang muncul bahkan sebelum saya selesai ketik di google search. Sebuah nama dengan prestasinya, dengan sopan santunnya, dengan semua hal dari dia yang begitu menginspirasi.

Hari ini pun sama dengan beberapa hari yang lalu, menyempatkan membaca catatan sejarahnya di tengah-tengah tumpukan tugas. Satu foto mengenai visualisasi mimpi-nya yang membuat saya tersadar akan satu hal.

Kenapa saya seperti ini? Dan kenapa dia bisa seperti itu?
Sebenarnya ini tentang sebuah pilihan yang diambil pada saat pertama kali saya menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Dan mungkin juga dia. Sebuah langkah awal yang akhirnya membuat saya memilih jalur ini dan dia di jalurnya.

Dia punya mimpi, begitu pun dengan saya.
Dia tuliskan mimpi-mimpinya, begitu pun dengan saya.
Dia sibuk mengejar mimpinya, begitu pun dengan saya.
Sampai akhirnya dia mulai meraih mimpi-mimpinya, begitu pun dengan saya.

Tidak ada yang salah dengan apa yang saya lakukan dan dia lakukan. Kami hanya punya jalur yang berbeda, pencapaian di bidang yang berbeda.

The Amazing Man, kamu memang punya buanyak prestasi. Kamu memang sudah menginspirasi banyak orang. Dan kali ini pun, secara tidak langsung kamu sudah mengajarkan pada saya tentang sebuah langkah awal dan konsistensi untuk bisa sampai pada mimpi-mimpi itu.

Just Be Your Self

Just Be Your Self

Ini fenomena belakangan yang sempat membuatku miris. Ketika job desk menjadi sebuah alasan untuk menjadi orang lain.

Tak masalah dan itu bukan hal yang dilarang ketika kamu mengagumi orang lain. Karna bagaimana dia menjalankan tugasnya, atau apapun itu. Tak masalah, sama sekali bukan masalah penting. Tapi perlu diingat jangan sampai karna obsesimu kamu jadi lupa siapa kamu.
Kamu adalah kamu. Dan aku adalah aku. Kita adalah sosok yang berbeda. Kita punya karakter yang berbeda. Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuat masing-masing dari kita menjadi spesial.

***

"Mas, gak usah acting."
Kata-kata itu gak akan keluar kalo kamu bisa jadi dirimu sendiri.

Mungkin ini yang perlu kamu tau tentang aku. Ini aku. Seperti yang bisa kamu dan teman-temanmu lihat. Terlahir dengan default wajah jutek, kalo ngomong pedes, suka ceplas-ceplos. Ini aku. Tentang job desk yang sering teman-temanku berikan hanya sebatas dari apa yang harus aku lakukan. Bukan dari bagaimana aku harus menata tingkah lakuku hingga harus menjadi orang lain.

Masih ingat ketika kalian yel-yel dulu, aku duduk di kursi paling belakang. Mengamati. Dan tertawa. Lalu coment kalian di message paper itu..
"Akhirnya bisa lihat mbak Lelly senyum.."
"Senyum lagi dong mbak.."
dsb.
Apakah aku mencoba menyembunyikan tawaku saat itu? Tidak.

Ini aku, dengan muka judes dan kata-kata pedas yang sudah jadi trade markku, yang akhirnya menjadi sebuah anugerah yang membantuku dalam mengerjakan tugas-tugasku.

Kamu tidak perlu seperti itu. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Orang akan mengikutimu bukan karena tampang garangmu, tapi dari bagaimana kamu bisa menempatkan posisi.

Terakhir.. Just be your self, brother. :)

Gerimis :)

Gerimis :)
Gerimis..
Hanya gerimis, bukan hujan
Hanya gerimis,
tapi sudah cukup membuat daun-daun tampak lebih segar
bunga-bunga bersemu dengan cantiknya
dan jalan-jalan digenangi air di sani-sini..

Hanya gerimis..
Bukan hujan..
Yang membuat pagi ini lebih segar
Yang membuat udara lebih dingin
Dan keakraban ini semakin menghangatkan

Gadis Cilik

Gadis Cilik
Tegal Mulyorejo Baru, atau biasa yang dikenal dengan TMB. Di sinilah aku tinggal selama kurang lebih 2,5 tahun. Dalam perantauan untuk menuntut ilmu. Sebuah kampung kecil yang cukup panjang, dengan menjajarkan rumah dengan nomer 1 sampai hampir 200 (jumlah pastinya aku lupa).

Langsung saja kita tembak salah sudut kampung kecil ini. Di sekitar rumah nomer 49 - 81. Inilah jalan yang tiap hari aku lalui untuk pulang pergi ke kampus. Melewati Panti Asuhan yang sedang dalam pembangunan. Toko-toko kecil. Dan Masjid Ahmad Yani yang juga sedang dalam pembangunan.

Bila melewati jalan ini, kalian tidak akan asing dengan anak-anak kecil yang bermain-main di sana. Mulai dari sepak bola, layang-layang, kelereng, bersepeda, dan masih banyak lagi. Setiap aku melewati mereka, kebanyakan dari mereka tidak peduli siapa yang lewat. Sama seperti ketidakpedulian mereka dengan bagaimana lusuhnya mereka yang bau matahari itu. Aku mungkin juga akan begitu bila jadi mereka. Tidak semua. Ya. Tidak semua. Satu dua ada yang mengganggu. Dan ada yang selalu menyapa dengan riang.

Dari banyak anak kecil yang ada di sana. Ada seorang gadis kecil yang menjadi perhatianku beberapa hari ini. Kami jarang bertemu. Kalau pun iya, itu karena aku pulang kuliah lebih cepat dan dia sedang bermain bersama teman-temannya. Kami juga tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi satu hal yang membuatku memperhatikannya. Dia selalu menyapaku ketika aku lewat di depannya.

"Mbak...," sapanya sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya "gigis".

Awalnya aku selalu terkejut dengan sapaannya. Yaaa... karna tidak biasa. Sangat amat jarang sekali ada anak kecil yang mau menyapa orang yang lewat di sekitarnya. 

Dan tadi siang, percakapan kecil itu terjadi untuk pertama kalinya..
"Mbaaak..", sapanya.
"Daleem," jawabku sambil membalas senyumnya.
"Dari mana, mbak?"
"Dari kampus."
"Itu beli di mana, mbak?"
"Hah? Apa, dek?"
"Itu lo mbak (sambil menunjuk giginya). Itu apa?"
"Oh, ini bracket dek."

Batinku tertawa dengan pertanyaannya. Bagi kita, mungkin ini bukan hal yang aneh lagi karena sudah banyak orang yang memakainya. Tapi bagi anak-anak kecil itu, ini mungkin sesuatu yang aneh. Bukan hanya gadis kecil itu, beberapa anak kecil di rumahku pun juga begitu. Ketika aku tersenyum, atau sekedar mengajak mereka ngobrol, pada akhirnya perhatian mereka tertuju pada bracket yang terpasang indah di gigiku. "Memagari" gigi-gigiku dengan karet warna warninya. Kalau yang balita reaksinya akan sama dengan gadis kecil tadi. Tapi kalau masih bayi, pasti langsung mengerutkan dahinya, dan tangannya mulai beraksi mengubek-ubek bibirku agar mau terbuka. 

Hei Mahasiswa! Check this out!

Hei Mahasiswa! Check this out!
Sudah tahu surat untuk rektor/direktur yang baru?
Check this out, guys..

Ini bisa jadi semacam pelecut biar gak cuma bisa nulis status di Socnet atau ngeblog doang. Tapi juga bisa dan berkompeten untuk bisa (dan HARUS BISA!) nulis jurnla ilmiah. 

Untuk Indonesia yang lebih baik..  ˆˆ

Suatu Pagi di Awal Februari

Suatu Pagi di Awal Februari

Pagi yang indah..
Bila biasanya setiap pagi kalian hanya menatap kamar yang lengang yang pengap..
Bila biasanya setiap pagi kalian hanya bisa menatap mentari yang mulai menyinari bumi..
Bila biasanya setiap pagi kalian hanya bisa menghirup udara pagi yang menyegarkan..

Pagi ini, di awal bulan Februari..
Bagiku sungguh berbeda.

Pagi yang indah. Pagi yang menyejukkan, dengan mentari yang perlahan mulai menyinari bumi, dengan sejuknya udara pagi, dengan tanah yang masih basah sisa hujan tadi malam, dengan burung-burung yang terbang amat rendah. Semua tampak memesona.

Aku tertarik dengan gerakan lincah burung-burung pagi ini. Biasanya mereka terbang tinggi, bahkan mereka hampir tak pernah terlihat sedekat itu. Tapi kali ini mereka terbang begitu rendah, yang akhirnya aku tau kenapa mereka terbang serendah itu. Karna mencari laron. Hahahha..
Ada untungnya juga mereka terbang seperti itu. Laronnya tidak sempat migrasi terlalu banyak, karna begitu ada larob langsung dilahap oleh burung-burung itu.